Progresjatim.com, Sidoarjo — Gelaran Jayandaru Festival 2025 di halaman Museum Mpu Tantular, Buduran, yang digadang-gadang sebagai panggung besar pelestarian budaya Sidoarjo, justru memantik kekecewaan dari para pegiat budaya lokal. Salah satunya datang dari pelaku budaya Sidoarjo, Gus Bento, yang mengaku mendapat pengalaman tak menyenangkan saat memasuki area acara.
Gus Bento, yang datang sebagai pegiat budaya, mengaku langsung disodori pertanyaan dari penerima tamu. “Saya ditanya, ‘Panjenengan dari paguyuban mana? Diundang atau tidak?’ Seolah-olah acara ini bukan untuk masyarakat Sidoarjo,” ujarnya dengan nada kecewa.Rabu (26/11/2025)
Ia menambahkan, buku tamu hanya disediakan untuk tamu undangan, bukan bagi para pelaku budaya yang datang secara mandiri.
“Ini festival budaya, bukan acara tertutup. Tapi atmosfernya seperti menghadiri resepsi privat,” tegasnya.

Paguyuban Lokal Terpinggirkan
Jayandaru Festival yang berlangsung selama lima hari ini sejatinya menyuguhkan ragam pertunjukan, mulai tari, musik tradisi, macapat pelajar, jaranan/bantengan, lomba banjari, hingga musik patrol. Namun di balik kemeriahan itu, sejumlah paguyuban budaya lokal justru merasa tidak dilibatkan secara layak.
Keluhan yang sama muncul dari beberapa komunitas budaya lain. Mereka menilai penyelenggaraan festival tampak “asing” bagi warga budaya Sidoarjo karena sebagian panitia inti bukan berasal dari lingkungan budaya lokal.
“Ini aneh. Nama festivalnya jelas mengatasnamakan budaya Sidoarjo. Tapi yang memegang kendali justru orang luar. Kami hanya seperti pelengkap,” keluh seorang pengurus paguyuban seni tradisi yang enggan disebutkan namanya.
Gus Bento: “Budaya Itu Hidup dari Akar, Bukan Dari Kontrak Panitia”
Gus Bento yang juga pengurus MATRA (Masyarakat Adat Nusantara ) menyebut praktik seperti ini berbahaya bagi ekosistem budaya daerah. Menurutnya, pelibatan budayawan bukan sekadar formalitas atau tanda hadir, tetapi bagian penting dari keberlanjutan tradisi.
“Budaya itu hidup dari akar masyarakat, dari para pelaku yang setiap hari menghidupkan kesenian. Kalau festival budaya ditujukan kelompok tertentu dan menyingkirkan pelaku budaya lokal, itu bukan pembinaan. Itu pencitraan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa setiap agenda budaya berlabel kabupaten seharusnya menjadi ruang kolaborasi, bukan ruang eksklusif. “Saya bukan minta dihormati. Tapi jangan sampai budayawan Sidoarjo justru menjadi tamu di rumahnya sendiri.”
Harapan Gus Bento untuk Perbaikan
Meski kecewa, Gus Bento tetap berharap Jayandaru Festival bisa menjadi momentum pembenahan tata kelola acara budaya di Sidoarjo. Ia menegaskan, solusi bukan membesarkan konflik, tetapi memperbaiki pola komunikasi dan pelibatan.
“Harapan saya sederhana: libatkan semua unsur budaya Sidoarjo. Jangan sampai acara besar seperti ini hanya jadi ajang proyek atau seremonial,” ucapnya.
Gus Bento juga menekankan perlunya keterbukaan panitia, mulai dari seleksi peserta, undangan, hingga struktur kepanitiaan. “Kalau mau membangun kepercayaan publik budaya, transparansi itu wajib. Jangan sampai ada kesan eksklusivitas atau kepentingan tertentu.”
Festival Besar, Rasa Tidak Nyaman Besar
Kesan eksklusif dan berjarak ini membuat sebagian pegiat budaya menilai bahwa Jayandaru Festival kehilangan ruhnya. Padahal, kegiatan ini digagas untuk nguri-uri budaya Sidoarjo. Namun di lapangan, atmosfernya justru menimbulkan pertanyaan.
“Kalau budaya lokal tidak diberi ruang, bagaimana bisa festival ini menjadi representasi Sidoarjo?” kata Bento menutup wawancara.(ZAP)





