Wabup Sidoarjo Apresiasi UMKM Herbal Teh Daun Kumis Kucing

by -10 Views

Progresjatim.com, Sidoarjo – UMKM herbal teh daun kumis kucing di Dusun Girang, Desa Wonokupang, Kecamatan Balongbendo, menarik perhatian Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana. Dengan khasiatnya yang tinggi, ia berharap produk herbal itu dapat dikembangkan.
Selasa (4/8) pagi, Wabup Mimik melihat langsung proses pembuatan herbal teh daun kumis kucing. Herwanto, pemilik produk Herbaroso teh daun kumis kucing itu, juga mengajaknya untuk ikut memanen daun kumis kucing.
Herwanto menanam tumbuhan kumis kucing di lahan seluas 500 meter persegi. Sejak setahun lalu, pria yang juga seorang anggota TNI AL aktif itu mulai menanamnya dengan memanfaatkan lahan tidak produktif.
Wabup Mimik mengapresiasi jerih payah Herwanto yang mampu membuat produk herbal teh daun kumis kucing. Menurutnya, produk Herbaroso akan menjadi produk UMKM herbal yang banyak diminati masyarakat. Oleh karena itu, ia meminta masyarakat dapat juga menanam tanaman herbal tumbuhan kumis kucing.
”Tanaman Toga itu sebenarnya banyak sekali, tetapi kita mulai dengan tanaman kumis kucing. Ini adalah salah satu contohnya, dengan menanam tanaman kumis kucing bisa menghasilkan uang. Perputaran perekonomian di desa ini Insya Allah akan lebih cepat,” ucapnya.
Ia berharap Desa Wonokupang dapat menjadi percontohan desa dengan produk UMKM herbal. Lahan-lahan yang tidak produktif dapat dimanfaatkan untuk menanam tumbuhan kumis kucing. Ia melihat banyak sekali lahan-lahan di desa yang tidak produktif.
”Ini harus kita kembangkan dan ini udah ada salah satu contohnya. Ayo ben desadesa liyane melok-melok. Karena di desa itu banyak sekali lahan-lahan yang tidak berfungsi. Nah ayo dimanfaatkan,” ajaknya.
Wabup mengakui tumbuhan kumis kucing sudah terbukti berkhasiat bagi kesehatan. Pemanfaatannya pun sangat mudah. Cukup dengan menyeduh daunnya, manfaat tumbuhan kumis kucing dapat langsung dirasakan.
”Manfaat tumbuhan kumis kucing ini sangat bagus sekali bagi kesehatan, murah meriah, cukup diseduh, khasiatnya langsung topcer,” ujarnya.
Herwanto mengatakan, ide pembuatan teh daun kumis kucing berawal dari keprihatinannya pada kenaikan kasus pasien gagal ginjal di Indonesia. Data dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, kasus gagal ginjal di Indonesia melonjak hingga ratusan persen. Berlatar belakang tenaga kesehatan TNI Angkatan Laut, Herwanto tergugah. Ia mulai menanam tumbuhan kumis kucing.
”Pada tahun 2025 Menteri Kesehatan menyatakan seperti itu. Saya seorang nakes, jadi saya harus berupaya menolong masyarakat walaupun tanpa dukungan siapapun. Karena saya dulu pernah disumpah untuk membantu masyarakat, menolong masyarakat. Terciptalah ini karena teh kumis kucing ini komposisinya nomor satu untuk ginjal,” paparnya.
Herwanto menuturkan, mengawali budidaya tumbuhan kumis kucing tidaklah mudah. Bibit tumbuhan asli Indonesia itu sulit sekali didapatkannya. Namun, dengan tekad untuk menolong masyarakat, akhirnya ia berhasil membudidayakan tumbuhan kumis kucing. Dari lahan pekarangan rumah miliknya, ia berhasil memanen ratusan kilo daun kumis kucing yang siap diolah menjadi daun teh.
”Jadi lahan yang saya punya ini adalah lahan pekarangan rumah. Di lahan tidur yang nggak produktif saya jadikan produktif. Saya tanam tumbuhan kumis kucing ini karena sangat bermanfaat bagi kesehatan terutama kesehatan ginjal,” katanya.
Herwanto mengatakan, tanaman kumis kucing merupakan tanaman unggulan Indonesia. Banyak sekali manfaatnya. Selain untuk kesehatan ginjal, dapat juga untuk mengobati hipertensi, gula darah, maupun asam urat dan rematik.
Menurutnya, merawat tanaman kumis kucing sangat mudah. Bahkan, bisa dibilang minim perawatan. Cukup dikasih pupuk, tanaman kumis kucing dapat tumbuh subur. Tidak perlu obat-obatan pestisida karena tanaman kumis kucing antihama.
Masa panennya pun cukup singat. Tanaman kumis kucing dapat dipanen dalam 1,5 bulan sejak ditanam. Lalu, dapat dipanen lagi dalam periode yang sama selama tiga tahun masa produktivitasnya.
”Kalau tanaman kumis kucing aman sekali dari hama apapun. Coba dilihat daunnya, ada yang bolong nggak? Ini tanpa pestisida, tanpa semprot. Kita rawat saja dengan menyiram air dan kita cabut rumputnya,” jelasnya.
Herwanto mengungkapkan, saat ini ada sekitar sepuluh orang petani tanaman kumis kucing yang menjadi mitranya. Dari para petani tersebut, ia mengumpulkan 700–800 kg daun kumis kucing setiap bulan. Harga daun basah yang sudah tercacah Rp 3 ribu per kg.
Ia mengatakan, kebutuhan tanaman kumis kucing untuk produk tehnya masih cukup besar. Karena itu, dirinya siap menampung tanaman kumis kucing dari para petani lainnya.
”Daripada nandur yang lain mending nandur tanaman kumis kucing, karena tidak ada yang namanya hama. Masa produktivitasnya dua sampai tiga tahun ke depan. Semisal modal pertama itu bisa kembali antara setengah sampai 1 tahun, 2 tahun selanjutnya adalah untung sampeyan. Berapa per kilo? Tiga ribu rupiah. Langsung potong, kirim ke rumah saya,” ujarnya.(GUS)

No More Posts Available.

No more pages to load.