ProgresJatim.com,Sidoarjo– Di tengah riuh percakapan warga di Grup WhatsApp Ruang Publik Sidoarjo (RPS), Sujani pria yang akrab disapa “Bupati Swasta” mencetuskan ide yang tak biasa ,meruwat Kabupaten Sidoarjo. Bukan sekadar acara simbolik, melainkan ruwatan dan tirakatan akbar yang melibatkan seluruh perwakilan desa di Kabupaten Sidoarjo.
Rencananya, akhir Agustus 2025 nanti, di area parkir timur Gelanggang Olahraga (GOR) Sidoarjo, ribuan orang diperkirakan akan berkumpul. Setiap desa akan membawa satu tumpeng kerucut nasi kuning berhias lauk sebagai persembahan bersama. Tahun ini, momentum acara menjadi istimewa karena digelar bertepatan dengan peringatan 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Ini bukan hanya ritual. Ini gerakan batin dan sosial. Kita bersihkan Sidoarjo dari hal-hal negatif, kita jaga supaya tetap damai. Dan momen kemerdekaan ini menjadi pengingat bahwa persatuan adalah kekuatan terbesar bangsa,” kata Sujani kepada awak media, Selasa malam (12/8/2025).
RPS awalnya hanyalah ruang obrolan di WhatsApp, tempat warga membahas isu publik, saling mengingatkan, bahkan berdebat sengit. Namun di tangan Sujani, obrolan itu berubah menjadi jaringan sosial yang solid.
“Kalau di dunia nyata kita jarang ketemu, di sini kita bisa bersatu,” ujarnya.
Gagasan ruwatan ini lahir dari keresahan. Sidoarjo kerap dirundung kabar miring mulai dari persoalan Hukum, lingkungan, hingga gesekan sosial dan politik. Sujani meyakini, solusi tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga pada masyarakat yang mau bergerak bersama.
Ruwatan adalah prosesi spiritual untuk melepaskan sengkala atau pengaruh buruk yang menghalangi keberkahan hidup. Biasanya dilakukan dengan doa, sesaji, dan simbol pembersihan diri. Tirakatan, yang menyusul setelahnya, adalah laku prihatin untuk memohon keselamatan dan ketentraman.
“Ruwatan itu ibarat membersihkan cermin, tirakatan membuatnya tetap bening,” jelas Sujani. Filosofi itu menjadi alasan mengapa kedua ritual ini digelar berurutan.
Tak hanya warga desa, acara ini akan dihadiri pelaku seni, budayawan, tokoh agama, tokoh masyarakat, anggota DPRD, LSM, ormas, mahasiswa, organisasi media, hingga tokoh lintas agama dan keyakinan. Dukungan juga datang dari pimpinan daerah.
Bupati Sidoarjo Subandi dan Wakil Bupati Mimik Idayana dijadwalkan hadir, memberikan dukungan penuh pada kegiatan ini. Kehadiran keduanya diharapkan menjadi simbol bahwa gerakan menjaga harmoni adalah tanggung jawab bersama.
Dari kalangan ulama, dua tokoh kharismatik akan memimpin doa bersama: KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali) dan Abdussalam Mujib (Gus Salam) Rois Syuriah PCNU Sidoarjo. Doa mereka diharapkan menjadi pengikat batin seluruh peserta, memohon perlindungan dan keberkahan bagi Bumi Jenggolo.
Tumpeng dari perwakilan seluruh desa di Kabupaten Sidoarjo akan berjajar rapi di lokasi. Bentuk mengerucutnya, menurut Sujani, melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan di puncak, dan hubungan antar manusia yang saling menopang di bagian bawah. “Kalau fondasinya kuat, puncaknya tidak goyah,” katanya.
Bagi Sujani, ruwatan ini adalah bentuk “kemerdekaan batin” masyarakat Sidoarjo. Setelah 80 tahun Indonesia merdeka secara politik, ia berharap warga juga merdeka dari rasa curiga, iri, dan gesekan sosial yang memecah belah.
“Kemerdekaan sejati adalah saat hati kita damai,” ujarnya.
Sujani tak muluk-muluk. Ia tahu ruwatan dan tirakatan bukan jaminan semua masalah selesai. Namun ia percaya pada kekuatan doa kolektif dan kebersamaan. “Kalau batin kita bersih, niat kita lurus, insya Allah Sidoarjo aman, damai, dan kondusif,” katanya.
Di penghujung wawancara, ia tersenyum.
“Siapa tahu ini jadi agenda tahunan. Kita rawat tradisi, kita rawat persaudaraan, dan kita rawat kemerdekaan yang sudah diperjuangkan dengan darah dan air mata para pahlawan,” ucapnya.
Akhir Agustus nanti, Sidoarjo akan menjadi saksi. Dari tumpeng-tumpeng desa hingga lantunan doa lintas agama dan keyakinan, semua berpadu dalam satu tujuan ,meruwat Kabupaten Sidoarjo agar tetap teduh, rukun, dan merdeka di tengah zaman yang kian gaduh.(Sap)





