Perumda Delta Tirta Ungkap Tantangan Menekan Kebocoran Air di Sidoarjo ‎

by -130 Views

SIDOARJO – Perumda Delta Tirta Sidoarjo terus melakukan berbagai upaya untuk menurunkan tingkat kehilangan air TKA

‎Direktur Utama Perumda Delta Tirta, Dwi Hary Soeryadi, menjelaskan bahwa angka TKA yang saat ini berada di kisaran 30 persen masih tergolong normal jika dibandingkan dengan sejumlah perusahaan daerah air minum di berbagai wilayah Indonesia. Di beberapa daerah lain, TKA bahkan mencapai 40 persen, 50 persen, hingga di atas 60 persen kepada Progres jatim.com saat dikonfirmasi Minggu (14/6/2026) lewat telepon

‎Menurutnya, TKA juga tidak bisa serta-merta dimasukkan dalam kategori kerugian perusahaan.


‎”TKA tidak bisa langsung dianggap sebagai kerugian. Penyumbang terbesar berasal dari faktor teknis, terutama kondisi jaringan perpipaan yang tertanam di bawah tanah dan rata-rata sudah berusia cukup tua,” ujar Dwi Hary

‎Dia menjelaskan, usia jaringan perpipaan yang sudah lama membuat potensi kebocoran semakin tinggi. Tantangan lainnya adalah sulitnya menemukan titik-titik kebocoran yang tersebar di sepanjang jaringan distribusi, terutama pada pipa yang berada di bawah permukaan tanah.

‎Selain faktor teknis, terdapat pula kontribusi kehilangan air akibat faktor nonteknis, meskipun porsinya relatif kecil dibandingkan kebocoran fisik pada jaringan perpipaan.

‎Adapun pada sebagian kecil kasus yang disebabkan faktor nonteknis, seperti penyalahgunaan sambungan atau pelanggaran yang dilakukan oleh pihak tertentu, Perumda Delta Tirta memiliki mekanisme pengawasan dan penindakan sesuai ketentuan yang berlaku. Apabila ditemukan dan terbukti terjadi pelanggaran, perusahaan akan menindaklanjuti secara tegas serta berkoordinasi dengan pihak berwenang sesuai peraturan perundang-undangan.

‎Untuk mengatasi persoalan TKA, Perumda Delta Tirta mulai menerapkan sistem digitalisasi melalui teknologi SCADA. Teknologi ini memungkinkan pemantauan jaringan distribusi secara lebih cepat dan akurat sehingga kebocoran dapat terdeteksi lebih dini.

‎”Perumda Delta Tirta sudah mencobanya di kawasan Perumahan Shojiland dan hasilnya sangat baik,” jelasnya.

‎Dalam uji coba tersebut, tingkat kehilangan air yang sebelumnya berada di kisaran 40 persen berhasil ditekan hingga di bawah 1 persen. Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa digitalisasi merupakan salah satu solusi paling efektif dalam menurunkan TKA.

‎Meski demikian, penerapan teknologi tersebut secara menyeluruh membutuhkan biaya dan investasi yang sangat besar. Oleh karena itu, implementasinya harus dilakukan secara bertahap dengan perencanaan yang matang.

‎”Investasi untuk digitalisasi jaringan tidak kecil. Karena itu diperlukan tahapan, konsistensi, dan kesabaran agar target penurunan TKA dapat tercapai secara berkelanjutan,” tambahnya.

‎Perumda Delta Tirta juga pernah menjajaki kerja sama dengan investor untuk mempercepat program penurunan TKA. Bahkan dua investor sempat menandatangani nota kesepahaman (MoU), namun kerja sama tersebut belum dapat direalisasikan karena menghadapi berbagai kendala teknis maupun nonteknis.

‎Dwi Hary berharap upaya penurunan TKA terus menjadi komitmen perusahaan ke depan. Menurutnya, siapa pun yang memimpin Perumda Delta Tirta nantinya harus tetap memiliki semangat untuk melakukan perbaikan berkelanjutan demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

‎”Saya berharap Perumda Delta Tirta tidak patah arang untuk terus berupaya menurunkan tingkat kehilangan air. Siapa pun direksinya nanti, semangat untuk berjuang dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat harus terus dijaga demi hasil yang lebih baik di masa mendatang,” pungkasnya. (*/GUS)

No More Posts Available.

No more pages to load.