Pemkab Sidoarjo Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Bencana Hidrometeorologi

by -60 Views

Progresjatim.com, Sidoarjo – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mengantisipasi potensi terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, hingga
kekeringan. Berbagai peralatan penanggulangan bencana disiagakan. Posko di
sejumlah wilayah diperkuat. Upaya normalisasi sungai juga terus dilanjutkan untuk melindungi masyarakat dari dampak bencana.
Sejumlah wilayah rawan banjir menjadi perhatian. Di antaranya, Tanggulangin, Porong, Candi, Waru, Jabon, Krembung, hingga kawasan Sidoarjo Kota. Untuk mendukung penanganan di lapangan, Pemkab Sidoarjo menyiapkan 17 unit
pompa air, 4 perahu karet, 51 kendaraan operasional, ambulans, 10 sepeda motor trail, serta 12 unit mobil pemadam kebakaran. Selain itu, tersedia pula 40 tenda pengungsian, 2 dapur umum, 20 genset, 50 gergaji mesin, dan 17 unit peralatan pompa.
Kesiapan tersebut juga didukung 32 rumah air yang tersebar di enam
kecamatan. Yakni, Taman, Tanggulangin, Sidoarjo, Waru, Candi, dan Porong.
Pemkab Sidoarjo turut menyiapkan satu posko siaga utama BPBD serta empat posko bencana di wilayah Tanggulangin, Porong, Candi, dan Jabon yang akan
diaktifkan apabila terjadi bencana banjir.
Bupati Sidoarjo Subandi menegaskan kesiapan Pemkab tersebut saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi di Alun-alun
Sidoarjo, Jumat (6/11/2026). Kegiatan itu diikuti sekitar 400 peserta dari unsur
TNI, Polri, BPBD, perangkat daerah di lingkungan Pemkab Sidoarjo, Basarnas Surabaya, PLN Sidoarjo, PMI Sidoarjo, serta relawan.
Subandi menginstruksikan seluruh kecamatan untuk mengaktifkan posko bencana dan meningkatkan koordinasi lintas sektor. Ia menekankan pentingnya
kesiapan seluruh unsur agar penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat
dan terkoordinasi.
“Saya instruksikan masing-masing kecamatan mengaktifkan posko bencana.
Kolaborasi harus terus ditingkatkan, termasuk melalui forum dan pelatihan kebencanaan. Bencana ini tidak bisa diperkirakan sehingga harus kita tanggulangi dengan kesiapsiagaan,” tegasnya.
Selain menyiapkan peralatan, upaya pengendalian banjir terus dilakukan melalui normalisasi sungai dan saluran air, terutama di wilayah Tanggulangin, Porong,
dan Candi. Titik-titik rawan banjir di kawasan perkotaan juga telah dipetakan u,ntuk mendukung langkah antisipasi.
Saat ini normalisasi oleh Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya
Air (DPUBMSDA) terus dilakukan. Koordinasi dengan para camat juga terus
dilakukan,” ungkapnya.
Di wilayah Kedungpeluk, Kecamatan Candi, juga sudah dibangun dam
berukuran besar disertai normalisasi yang dilakukan untuk pengendalian banjir.
Namun, Subandi mengakui penanganan banjir di sejumlah wilayah Sidoarjo
masih menghadapi tantangan karena wilayah Sidoarjo ini adalah wilayah Delta
atau genangan.
“Kalau air rob meluap, air tidak bisa langsung kita keluarkan. Kita harus
menunggu sampai kondisi air memungkinkan, baru dilakukan pembuangan,”
jelasnya.
Subandi menambahkan, karakteristik ancaman bencana di wilayah Delta
Sidoarjo lebih didominasi banjir. Meski demikian, kesiapsiagaan juga diarahkan
untuk menghadapi potensi bencana lain, seperti angin puting beliung,
kebakaran, dan kekeringan.
Subandi menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang telah bahumembahu dalam penanganan bencana di Kabupaten Sidoarjo. “Saya berharap
sinergi pemerintah daerah, TNI, Polri, instansi terkait, dan relawan terus
diperkuat sehingga upaya mitigasi dan penanganan bencana dapat berjalan
optimal serta memberikan perlindungan bagi masyarakat,” tutupnya.
Berdasarkan data dari BMKG, musim hujan di Sidoarjo diperkirakan
berlangsung mulai Desember 2026 hingga Maret 2027. Puncak hujan diprediksi
pada Februari 2027. Durasi musim hujan tahun ini diperkirakan lebih singkat.
Sementara itu, fenomena El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga
Februari 2027 sehingga pola cuaca cenderung sulit diprediksi.
Selama Januari hingga 1 November 2026, di Kabupaten Sidoarjo tercatat 28
kejadian bencana. Terdiri atas empat kejadian banjir, 21 kejadian angin kencang,
dan tiga kejadian kekeringan. Dampak angin kencang tercatat terjadi di 14
kecamatan dan 63 desa, dengan 288 rumah mengalami kerusakan ringan. (GUS)

No More Posts Available.

No more pages to load.