Pejuang Budaya Sidoarjo Komitmen Jaga Perdamaian , Antisipasi Aksi Anarkis dari Arus Aspirasi

by -505 Views

Progres Jatim.com, Sidoarjo – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan Kota Delta, Barisan Pejuang Kebudayaan Bangsa (BPKB) dan Persatuan Budayawan Jagad Suwung Nusantara (PBJSN) mengambil langkah strategis bukan hanya melestarikan warisan leluhur, tapi juga menjaga ketertiban dan kondusifitas masyarakat, terutama saat aspirasi masyarakat disampaikan melalui unjuk rasa.

Budaya sebagai Pelindung Sosial

Menurut Ketua BPKB, Umar, budaya bukan sekadar monumen masa lalu, namun fondasi moral yang memperkuat antarwarga.

“Kami hadir bukan hanya sebagai pelestari budaya, tapi juga sebagai penjaga nilai luhur bangsa. Sidoarjo harus dijaga dari tindakan merugikan kebersamaan dan persatuan. Budaya adalah benteng moral,” tuturnya. Senin,(8/9/2025)

Museum Mpu Tantular: Edukasi Plus Perlindungan Warisan

Melalui Museum Negeri Mpu Tantular, Umar melihat peluang membangkitkan rasa memiliki generasi muda terhadap sejarah dan perpaduan budaya sebagai tameng terhadap disintegrasi sosial.

“Anak-anak mesti datang ke museum, belajar bahwa kejayaan bangsa ini dibangun atas penghormatan terhadap budaya dan ilmu pengetahuan,” tambah Umar.

Aksi Damai & Antisipasi Aksi Penunggang Aspirasi

PBJSN mendorong jalur budaya sebagai sarana aspirasi alternatif yang inklusif dengan seminar seni, pertunjukan tradisional, hingga forum diskusi komunitas.

Namun, tak luput dari kewaspadaan akan potensi penyalahgunaan momentum demonstrasi oleh kelompok tak bertanggung jawab. Umar mengingatkan:

“Jangan sampai penyampaian pendapat direbut oleh oknum hingga berujung penjarahan, pembakaran, atau kekerasan.”

Contoh konkrit yang menjadi acuan, beberapa hari lalu, puluhan mahasiswa HMI berdemonstrasi di pintu keluar Tol Sidoarjo menuntut kejelasan kasus driver ojek online. Aksi tersebut berjalan kondusif berkat antisipasi polisi: 300 personel siap siaga dengan pola pengamanan humanis, tegas, dan berlapis. Titik kumpul, pengaturan lalu lintas, hingga imbauan agar massa tidak mudah terprovokasi, dilakukan secara sistematis .

Tak kalah penting, Ketua DPRD Sidoarjo, Abdillah Nasih, membuka dialog langsung dengan pendemo melalui pendekatan musyawarah menghindari eskalasi anarkis dan menjaga hak menyampaikan aspirasi tetap aman .

Pelestarian Budaya: Jaringan Sosial Waktu Damai

“Budaya itu mempersatukan, bukan memecah belah,” tegas Ketua PBJSN, Dento.
PBJSN menyarankan agar aspirasi bisa ditempatkan dalam medium dialog budaya sedangkan komunitas seni desa, permainan tradisional, dan bahasa Jawa halus dipromosikan sebagai penyambung tali persaudaraan lokal.

“Pelestarian budaya tidak harus mahal. Cukup kesadaran bersama bahwa budaya adalah identitas kita,” katanya.

Simposium, Pagelaran, dan Dialog sebagai Benteng Kedamaian

Sidoarjo kini menjadi contoh bagaimana budaya dan keamanan berjalan beriringan. Simposium kebudayaan, pagelaran ludruk, hingga kesenian jaranan , menjadi alat efektif menjaga kerukunan bahkan ketika terjadi demonstrasi, seperti bulan lalu, kerusuhan dapat dicegah melalui kolaborasi budaya, masyarakat, dan aparat keamanan.

Penutup: Pejuang Budaya adalah Pejuang Perdamaian

Umar menyudahi dengan satu pernyataan yang menyatu:

“Kami bukan sekadar pejuang budaya, tapi juga pejuang perdamaian. Sidoarjo harus menjadi teladan bagaimana budaya bisa menghidupkan kerukunan.(SAP)

No More Posts Available.

No more pages to load.