Enam Lokus di Sidoarjo Diverifikasi untuk STBM Award Paripurna Nasional 2026

by -28 Views

Progresjatim.com, Sidoarjo – Enam titik di Kabupaten Sidoarjo menjadi sasaran verifikasi lapangan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Award Paripurna tingkat nasional, Rabu (30/9/2026). Tim verifikator meninjau langsung penerapan sanitasi. Selain itu, memastikan perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan dan lingkungan.
Verifikasi lapangan tersebut dibuka oleh Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo M. Ainur Rohman yang mewakili Bupati Sidoarjo Subandi. Ia didampingi jajaran perangkat daerah terkait, Forkopimda, dan stakeholder.
Dari tim verifikator hadir Johanes Eko Kristiyadi (Kementerian Kesehatan), Adam Udi Velianto (Kementerian Dalam Negeri), serta lima tim pendamping dari Provinsi Jawa Timur.
Ainur mengatakan, verifikasi lapangan menjadi bagian dari proses penilaian Kabupaten/Kota STBM Award Paripurna 2026. Namun, dia menegaskan bahwa penerapan STBM tidak semata-mata dilakukan untuk mengejar penghargaan. Tetapi, menjadi kebutuhan masyarakat dan bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan serta lingkungan.
“STBM ini tidak bisa hanya pemerintah saja, namun juga dibutuhkan kekuatan kolaborasi baik dari pemerintah, Forkopimda, stakeholder, hingga masyarakat. Yang ingin kami pastikan adalah apakah perilaku masyarakat juga berubah seiring berjalannya progran STBM,” ujar Ainur.
Menurut dia, keberhasilan STBM bukan hanya dilihat dari keberadaan sarana dan prasarana sanitasi. Hal yang lebih penting adalah memastikan masyarakat benarbenar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
“STBM adalah sebuah kebutuhan kami. Ini bagian dari kebutuhan masyarakat. Jadi, meskipun tidak dikonteskan, kami tetap akan menggerakkan program STBM di masyarakat,” tegasnya.
Lima pilar STBM mencakup Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS), Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMMRT), Pengelolaan Sampah Rumah Tangga serta Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga.
Enam Lokus Jadi Gambaran Penerapan STBM
Dalam verifikasi lapangan tersebut, tim mengunjungi enam lokus atau titik yang mewakili penerapan STBM sekaligus inovasi sanitasi di berbagai sektor. Lokus pertama berada di Puskesmas Gedangan. Fasilitas pelayanan kesehatan tersebut
menjadi contoh penerapan Gender Equality, Disability, dan Social Inclusion (GEDSI). Tim melihat secara langsung bagaimana fasilitas pelayanan publik memperhatikan aspek kesetaraan gender, akses bagi penyandang disabilitas serta inklusi sosial.
Verifikasi dilanjutkan ke TPS3R Pelangi, Desa Ketajen, Kecamatan Gedangan. Di lokasi itu, praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat dilakukan melalui pemilahan dan pengolahan sampah dari lingkungan.
Pengelolaan sampah menjadi salah satu perhatian Pemkab Sidoarjo. Saat ini terdapat sekitar 346 desa/kelurahan dengan sekitar 210 di antaranya telah memiliki TPS3R.
Selanjutnya, tim menuju PAMSIMAS Tirta Bening, Desa Becirongengor, Kecamatan Wonoayu. Lokus itu menjadi gambaran penyediaan akses air minum melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS). PAMSIMAS Tirta Bening memiliki jumlah sambungan rumah (SR) sebanyak hampir 300 SR sehingga menjadi salah satu contoh penerapan akses air minum terbaik yg berbasis masyarakat.
Lokus berikutnya berada di Kampung STBM dan 20 rumah yang menerapkan TGG Sanitasi di Desa Bluru Kidul RT 14 RW 11, Kecamatan Sidoarjo. Di lokasi tersebut, tim melihat langsung penerapan lima pilar STBM pada tingkat rumah tangga dan lingkungan permukiman serta sudah mempunyai tabungan TAMARA LLTT (Layanan Lumpur Tinja Terjadwal) bersama Bank Delta Artha.
Kampung tersebut juga telah menerapkan pengolahan sampah, pengelolaan air limbah rumah tangga, dan memiliki sejumlah praktik sanitasi lainnya yang dilakukan secara baik dan konsisten oleh masyarakat. Bahkan, kampung ini menjadi juara RT Sehat di tahun 2024.
Verifikasi berikutnya dilakukan di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) UPTD PALD di Desa Kupang, Kecamatan Jabon. Tim melihat proses pengelolaan lumpur tinja sebagai bagian penting dari sistem sanitasi yang aman dan berkelanjutan. Tim verifikator juga melihat TPA Griyo Mulyo Jabon yang berada di sebelahnya. Tim mengamati proses pengolahan sampah di sana.
Lokus terakhir berada di Stasiun Sidoarjo. Fasilitas umum tersebut menjadi contoh penerapan GEDSI di ruang publik. Khususnya dalam menyediakan akses fasilitas yang dapat digunakan masyarakat secara inklusif.
Sementara itu, tim verifikator memberikan sejumlah feedback dari hasil kunjungan di lapangan. Penerapan aspek Gender Equality, Disability, dan Social Inclusion (GEDSI) di Stasiun Sidoarjo dan Puskesmas Gedangan dinilai sudah diterapkan dengan baik. Pemeliharaan fasilitas juga dinilai cukup terjadwal.
Pada aspek pengelolaan sampah, pemilahan sampah secara rutin di Puskesmas Gedangan dinilai sudah berjalan baik. Tim juga melihat pengelolaan di TPA Griyo Mulyo yang dinilai cukup rapi dari sisi mekanisme pengelolaannya. Sementara penerapan STBM di Desa Bluru Kidul juga dinilai sudah baik.
Tim verifikator menekankan agar berbagai praktik baik yang telah diterapkan tersebut terus dipelihara dan dilakukan secara konsisten. Keberlanjutan menjadi hal penting agar penerapan STBM tidak hanya terlihat saat verifikasi, tetapi menjadi kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Secara umum sudah baik. Harapannya apa yang sudah diterapkan ini bisa terus dilakukan secara kontinu dan berkelanjutan, sehingga benar-benar diterapkan oleh masyarakat,” ucap Johanes Eko.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan, hasil dan masukan dari tim verifikator akan menjadi bahan tindak lanjut Pemkab Sidoarjo. Dinkes akan memastikan penerapan STBM 5 Pilar tidak berhenti pada pemenuhan sarana dan kegiatan, tetapi benar-benar sampai pada tingkat masyarakat dan rumah tangga.
“Dinkes akan menindaklanjutinya dan memastikan STBM 5 Pilar sampai pada level masyarakat rumah tangga,” ujarnya. (GUS)

No More Posts Available.

No more pages to load.