Wartawan progresjatim.com, wawancara khusus bersama Direktur Utama Perumda Delta Tirta Sidoarjo, Dwi Hary Soeryadi, Selasa (21/10/2025), diruang kerja
Progresjatim.com, SIDOARJO — Keluhan air tak mengalir di kawasan Perumahan Alana Regency ,tambak oso, Sidoarjo, bukan dikarenakan PDAM delta Tirta lamban menangani, namun lemahnya koordinasi dari pengembang sejak awal akan air bersih.
Seperti yang dirasakan Sejumlah warga sudah berhari-hari kran di rumah mereka debit airnya kecil. Namun, Perumda Delta Tirta menegaskan, persoalan itu bukan disebabkan gangguan teknis di jaringan PDAM, melainkan karena lemahnya koordinasi dari pihak pengembang sejak awal pembangunan.
Direktur Utama Perumda Delta Tirta Sidoarjo, Dwi Hary Soeryadi, saat dikonfirmasi, Selasa (21/10/2025), menyampaikan bahwa pengembang seharusnya melakukan komunikasi sejak tahap perencanaan perumahan. Dengan begitu, PDAM bisa menyiapkan kapasitas jaringan dan debit air yang sesuai kebutuhan.
“Koordinasi teknis itu penting. Dari situ kami bisa memproyeksikan kebutuhan debit air dan kapasitas jaringan yang diperlukan,” terang Dwi Hary.
Menurutnya, proses pemasangan jaringan distribusi air bersih tidak bisa dilakukan secara instan. Ada tahapan administratif dan teknis yang harus dilalui, mulai dari pengajuan resmi oleh pengembang, survei lapangan bersama konsultan, proses pengadaan material, hingga tender proyek pemasangan pipa.
“Pemasangan jaringan distribusi ini memerlukan waktu. Jadi kalau pengembang tidak berkoordinasi dari awal, tentu warga yang akan dirugikan,” imbuhnya.
Dwi mencontohkan, ketika Alana 1 baru saja dibuka, pihak pengembang langsung melanjutkan pembangunan ke Alana 2 tanpa menunggu selesainya pemasangan pipa distribusi utama. Padahal, jalur utama tersebut sangat vital karena menjadi penghubung utama aliran air dari PDAM menuju seluruh blok perumahan.
Selama masa tunggu penyelesaian pipa berdiameter 10 inci itu, PDAM masih memberikan suplai air sementara secara gratis sebagai bentuk tanggung jawab sosial, agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.
Namun, persoalan makin rumit ketika pengembang kembali membuka kawasan Alana 3, padahal jaringan pipa permanen belum siap. Bahkan, sejumlah unit rumah telah dijual dan dihuni warga, meskipun secara administratif belum terdaftar sebagai pelanggan PDAM karena masih proses pengajuan.
“Ini yang kami sayangkan. Mestinya pengembang menuntaskan dulu urusan teknis dan koordinasi dengan PDAM sebelum menjual unit rumah,” tegas Dwi.
Ia menambahkan, PDAM Delta Tirta tetap berupaya membantu warga agar tidak kesulitan air bersih. Namun, perusahaan daerah memiliki keterbatasan anggaran untuk membangun jaringan baru di seluruh kawasan tanpa dukungan pihak pengembang.
“Kami berharap pengembang ikut berperan aktif. Air bersih ini kebutuhan dasar, jadi harus direncanakan sejak awal, bukan setelah rumah terjual,” pungkasnya.(SAP)






